Kapal Selam Robotik Siap Mulai Pencarian MH370 Kapal Selam Robotik Siap Mulai Pencarian MH370 Sebuah kapal selam robotik siap memulai lagi pen... Read more
Hakim Militer AS Vonis Bersalah Bradley Manning Hakim Militer AS Vonis Bersalah Bradley Manning   Prajurit Bradley Manning didapati bersalah pa... Read more
Chatib Basri Kemukakan Ekonomi RI Pasca Pemilu 2014 Chatib Basri Kemukakan Ekonomi RI Pasca Pemilu 2014 Menkeu M. Chatib Basri membeberkan tiga hal yang... Read more
Pilihlah Caleg Yang Berkarakter Pilihlah Caleg Yang Berkarakter Faktareview.com - Genderang pesta demokrasi suda... Read more
Australia Deteksi Sinyal Konsisten dari  Black Box  MH370 Australia Deteksi Sinyal Konsisten dari Black Box MH370 Kepala tim pencarian Angus Houston perkembangan ... Read more
Pencarian Black Box MH370 di Bawah Air Semakin Intensif Pencarian Black Box MH370 di Bawah Air Semakin Intensif Regu pencari di Samudera Hindia selatan yang ter... Read more
Gencatan Senjata Taliban Pakistan Diperpanjang Gencatan Senjata Taliban Pakistan Diperpanjang Juru bicara Taliban Pakistan, Shahidullah Shahid... Read more

Beberapa Faktor Kenapa Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah?

Oleh Hendarman on . Posted in NASIONAL - Ekonomi Bisnis

Ilustrasi | SHUTTERSTOCKIlustrasi | SHUTTERSTOCK

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dollar AS. Beberapa faktor dari global dan domestik turut memberikan kontribusi penurunan mata uang Indonesia tersebut.

Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengatakan, dari sisi global, pelemahan nilai tukar rupiah dipicu oleh pembalikan dana asing (capital reversal). Ekonomi global yang belum pulih membuat investor menukarkan produk investasinya ke jenis investasi dengan risiko paling aman, yaitu dollar AS.

"Sementara dari sisi domestik, memang sedang ada kebutuhan dollar AS yang cukup besar baik untuk membayar impor hingga membayar utang pemerintah maupun utang swasta," kata Destry kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (23/7/2013).

Destry menambahkan, dari sisi importir, mereka sesungguhnya masih belum rela melepas dollar AS yang dipegangnya. Harapannya, dollar AS akan terus menguat dan importir ini akan terus untung.

Para importir ini, kata Destry, masih menunggu kepastian ekonomi global sehingga importir tersebut akan melepas dollar AS ke pasar jika ekonomi globalnya memburuk. Namun dari sisi eksportir, tentunya mengharapkan rupiah bisa kembali menguat. Tapi bila kondisi perekonomian masih melambat seperti ini, eksportir pun akan menunda bisnisnya.

"Dalam jangka pendek, rupiah ini memang masih mencari keseimbangan baru," katanya.

Solusinya, pemerintah harus bantu membantu mengatasi masalah fundamental dalam negeri. Misalnya inflasi yang dikhawatirkan melonjak, khususnya selepas kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi. Tentunya, kata Destry, investor masih menunggu bauran kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk menuntaskan masalah inflasi ini.

Bagaimanapun, risiko inflasi ini membuyarkan imbal hasil beragam produk investasi yang ada di tanah air. Inflasi yang melonjak ini juga turut menurunkan pertumbuhan ekonomi karena sebagian besar kontribusinya masih ditopang dari konsumsi domestik dan investasi.

"Jika risiko inflasi tinggi, maka daya konsumsi masyarakat juga menurun. Ini juga yang menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi. Investor asing juga masih pikir-pikir untuk investasi di Indonesia jika inflasinya tinggi," jelasnya.

Sementara dari sisi eksternal, investor asing memang masih mengalami liburan (summer holiday) sehingga mereka tidak mengambil posisi untuk berinvestasi di dalam negeri. "Asing akan kembali masuk sekitar September, sambil menunggu kebijakan pemerintah dalam mengatasi risiko inflasi," jelasnya.

Berdasarkan kurs tengah BI, nilai tukar rupiah hingga saat ini berada di level Rp 10.222 per dollar AS, melemah dibanding perdagangan kemarin di level Rp 10.068 per dollar AS. Sementara akhir pekan lalu, rupiah bergerak di leve Rp 10.070 per dollar AS.

Sumber  : Kompas.com
Penulis   : Didik Purwanto
Editor    : Erlangga Djumena

Add comment