Richie Mukhriady & Co Law Firm

Attorneys & Counselor At Law, Receiver and Administrator

  • Home
    Home This is where you can find all the blog posts throughout the site.
  • Categories
    Categories Displays a list of categories from this blog.
  • Tags
    Tags Displays a list of tags that has been used in the blog.
  • Bloggers
    Bloggers Search for your favorite blogger from this site.
  • Team Blogs
    Team Blogs Find your favorite team blogs here.
  • Login

Beberapa Masalah Hukum Yang Terjadi Disekitar Kita

Posted by on in OPINI
  • Font size: Larger Smaller
  • Hits: 1004
  • 0 Comments
  • Subscribe to this entry
  • Print
  • PDF

Penulis akan mencoba memberikan sedikit ilustrasi mengenai beberapa masalah hukum yang terjadi disekitar kita, adapun masalah-masalah hukum banyak sekali yang sering kita alami sendiri dalam kehidupan bermasyarakat, disini penulis akan memberikan ilustrasi hanya beberapa saja antara lain sebagai berikut:

Mengenai Sertifikat Tanah
Sehubungan dengan masalah sertifikat tanah dapat Penulis sampaikan beberapa contoh, BAYANGKAN, pernah klien penulis didatangi dua orang yang mengaku bisa membantunya untuk mencarikan kreditur per-orangan. Kebetulan ia memang sedang kesulitan modal akibat keterpaksaan krisis moneter. Karena orang-orang ini sangat pandai meyakinkannya ia yakin kalau orang itu akan bisa membantunya. Beberapa hari ke-mudian orang itu meminjam sertifikat tersebut untuk meyakinkan kreditur. Karena sangat berharap, sertifikat itu diserahkannya. “Dua minggu kemudian, sertifikat dikembalikan. Tanpa curiga, klien penulis menyimpan kembali sertifikatnya, ia tidak sadar kalau sertifikat tersebut telah ditukar dengan yang palsu, Kelihatannya ser­tifikat itu dipinjam untuk dipalsukan. Setelah dipalsukan maka sertifikat yang palsu itu diserahkan ke pemilik. Sedangkan sertifikat yang asli dibawa oleh si pemalsu.

“Pemalsu sertifikat juga pernah beraksi di kantor BPN, Klien bermaksud untuk menjual rumahnya. Kemudian ada yang ingin membeli. Lalu terjadilah kecocokan harga. Pemalsu yang berlagak sebagai pembeli meminjam sertifikat untuk difoto copy guna diperlihatkan ke keluarganya. Untuk mengecek keaslian sertifikat beberapa hari kemudian mereka janjian di BPN. Setiba dilantai dua gedung si pembeli meminta sertifikat. Lalu membawa sebentar ke suatu tempat. Tak lama kemudian dia datang. Lalu bersama-sama mengecek keaslian sertifikat itu. Ternyata setelah dicek, sertifikat itu dinyatakan palsu oleh pihak BPN. Kenapa ini bisa terjadi? Menurut Penulis Pemalsu telah mempersiapkan segala sesuatunya saat sertifikat itu dicopy. Dari data copy-an ini dibuatkan sertifikat palsunya dengan blanko sertifikat yang bisa didapatkan lewat orang BPN . Maka saat mereka berpisah dilantai dua gedung BPN itu, si pemalsu menukarkan sertifikat yang asli dengan yang palsu. Yang asli dia simpan, lalu yang palsu diperiksa keasliannya, tentu saja sertifikat itu dinyatakan palsu.

Ada kisah lain tentang sertifikat ini adalah seorang keturunan Tionghoa yang sudah tua. Dimana dia riendak men­jual rumahnya. Tak lama datang seorang yang mengaku perantara (broker) yang ingin membantu penjualan rumahnya tersebut, Tak lama, mulai terjadi kecocokan harga antara mereka. Lalu si perantara pura-pura ingin melihat sertifikat yang asli. Saat si pemilik lengah, maka sertifikat yang asli itu ditukar dengan yang palsu. Dan kisah berikutnya adalah Si A menjual tanah ke Si B, Karena itu si A menyerahkan sertifikatnya ke Si B tapi setelah itu Si A mengurus lagi sertifikatnya. Untuk itu dia melaporkan bahwa sertifikatnya hilang. Tentu saja pihak-pihak yang terkait membantu Si A untuk mendapatkan sertifikat yang baru. Lalu Si A menjual tanahnya lagi ke Si C dengan menyerahakan sertifikat yang baru. Oleh Si C sertifikat ini langsung dibalik namakan ke BPN. Maka jadilah sertifikat atas nama Si C. Dalam hal ini Si B sangat sulit dilacak keberadaannya.

Adalagi kisah lain dimana penjual dan pembeli sudah sepakat untuk mengadakan jual beli dengan harga yang telah disepakati, namun pihak penjual dalam hal ini tidak diwakili oleh pemilik asli dari sertifikat tersebut melainkan dimunculkan orang lain (figur) yang mengaku selaku penjual yang mana namanya serta KTP-nya si penjual dipalsukan dengan mengganti fotonya sehingga dengan demikian pihak yang mengaku selaku pemilik tadi dengan sendirinya dapat dengan mudah melaksanakan transaksi jual beli dan suatu saat pemilik asli mengetahuinya tentu yang muncul menjadi kasus karena secara hukum telah dilaksanakan jual beli namun ini difigurkan oleh pihak lain sehmgga pihak lain tersebut dapat dituntut secara pidana. Memang sangat banyak cerita kejadian tentang sertifikat palsu.

Tentu tidak sedikit pula pihak bank yang jadi korban sertifikat palsu ini. Terutama karena lalai memeriksa keaslian dari sertifikat yang diagunkan ke BPN. Umumnya hal ini baru diketahui setelah terjadi kasus atau eksekusi. Bertolak dari modus-modus ini, tampaknya para pemilik sertifikat perlu ekstra hati-hati. Siapa saja tampaknya dapat terjerat oleh pemalsu sertifikat. Apalagi adapula pemalsu yang disinyalir berada dalam sebuah sindikat yang canggih.

Kiat Menghindari Jerat Pemalsu Sertifikat

  • Jangan berikan sertifikat pada sembarangan orang.
  • Jangan mudah percaya untuk menitipkan atau nieminjamkan sertifikat pada seseorang dan jangan biarkan orang lain mencopy atau memegang copian sertifikat anda, selain yang memang pihak tertentu.
  • Hati-hati terhadap copian sertifikat anda, copylah sesuai utnuk keperluan yang benar-benar funsional untuk itu dan terjamin aman.
  • Jangan pernah meminjamkan sertifikat pada siapapun termasuk anggota keluarga yang sulit mengontrol sertifikat tersebut tidak dicopy atau dipinjam pula oleh orang lain.
  • Hati-hati terhadap iming-iming pihak tertentu yang dengan berbagai alasan membuat sertifikat anda sem-pat berpindah tangan.
  • Bila anda membeli tanah atau rumah, uruslah segera balik nama sertifikatnya.
  • Bagi pihak bank, biasakanlah untuk segera memeriksa keaslian dari sertifikat yang diagunkan.
  • Bagi pihak pemilik sertifikat hati-hati dengan adanya istilah meminjamkan sertifikat atau menyewakan sertifikat kepada pihak lain untuk keperluan pinjaman kredit kepada bank, dimana kondisi sertifikatnya dalam keadaan setiap saat dapat dieksekusi oleh pihak bank dan untuk itu sebelum meminjamkan atau menyewakan sertifikat kepada pihak lain, sebaiknya haras diperhatikan dan dianalisa karakter dan tingkat kemampuan daripada si penyewa sertifikat tersebut kalau bisa disarankan lebih baik jangan menyewakan atau meminjamkan sertifikat kepada pihak lain.

Mengenai Tindak Pidana Cek
Bahwa pada hakekatnya tujuan pokok daripada hukum adalah untuk menciptakan suatu ketertiban, dimana dengan ketertiban tercipta suatu kehidupan masyarakat yang teratur dan tertib dan hukum meru-pakan bagian dari masyarakat sehingga perabahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat akan saling terkait dengan hukum yang berlaku. Mematuhi dan melaksanakan aturan-aturan hukum terkait dengan masyarakat itu sendiri dan peraturan yang diterapkan. Selanjutnya penulis akan memberi sedikit ilustrasi mengenai tindak pidana cek yang berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahwa mengenai masalah cek haruslah benar-benar dipahami dimana kita tidak boleh memberikan atau membayar pihak lain dengan cek yang mana-dananya belum pasti ada atau dikhawatirkan menjadi atau dianggap cek kosong.

Masalah cek kosong apabila diproses dan dilaporkan kepada pihak kepolisian oleh pihak yang menerima cek tersebut karena merasa telah dirugikan dikarenakan ceknya kosong atau tidak adanya dananya. Dalam praktek sering terjadi hal-hal tersebut dimana apabila terjadi laporan tindak pidana ter­hadap cek kosong maka polisi akan segera melakukan proses dengan tuduhan teteh melakukan tindak pidana penipuan, seh­ingga polisi dapat menetapkan tersangka bagi yang mengeluarkan cek kosong terse­but dan bahkan dapat dilakukan penahanan terhadap tersangka yang mengeluarkan cek kosong tersebut, namun dilain pihak walau-pun ada suatu ikatan perjanjian antara yang memberikan cek kepada si penerima cek bahwa cek tersebut disepakati untuk tidak diuangkan atau dicairkan kecuali kalau ada informasi dari yang mengeluarkan cek bahwa dananya sudah ada baru boleh ditarik, namun dari sisi hukum pengertian cek adalah suatu alat pembayaran tanpa syarat yang harus dibayar oleh pihak bank.

Apabila kasus ini sampai dikepolisian unsur adanya kesepakatan lisan dengan pihak yang mengeluarkan cek bahwa cek tersebut tidak akan diuangkan atau dic-airkan sebelum ada konfirmasi dari pihak yang mengeluarkan cek tersebut, baik pihak penyidik atau polisi hal tersebut tidaklah ada arti apa-apa karena polisi tetap melakukan penyidikan bahwa hal tersebut adalah tindak pidana dan telah memenuhi unsur tindak pidana penipuan. Dalam praktek walaupun ada penyelesaian dan pemba­yaran terhadap cek kosong tersebut, setelah adanya laporan dari pihak yang dirugikan secara prinsip bahwa hal tersebut atau laporan tindak pidana tersebut tidak dapat dicabut begitu saja karena dari sisi kepolisian walaupun ada pencabutan ataupun pembayaranoleh pihak yang mengeluarkan cek pada prinsipnya hukum pidana atau tindak pidana yang dilakukan tersebut tidak dapat hapus begitu saja.

Nah disinilah dalam praktek sering terjadi peranan negosiasi dengan pihak yang melakukan penyidikan yaitu kepolisian dengan pihak tersangka dimana pihak tersangka untuk bisa menyelesaikan urusan tindak pidana dikepolisian tersebut tentunya harus mengelu­arkan biaya yang tidak sedikit termasuk biaya siluman, jadi penulis menyarankan bahwa untuk mengeluarkan dan menerbitkan cek kepada pihak lain haruslah berhati-hati karena resikonya besar sekali, disatu sisi pihak penyidik atau polisi menganggap suatu masalah ibarat membalikkan telapak tangan dimana setiap saat dapat dikategorikan sebagai suatu perbuatan tindak pidana yang memenuhi unsur dalam hal ini tindak pidana peni­puan serta setiap saat juga bisa dianggap tidak memenuhi unsur tindak pidana sehingga dapat diterbitkan SP3 dengan biaya siluman tadi. Akhirnya penulis menyarankan dan mengingatkan agar tetap waspada dan berhati-hati jangan sampai melakukan tindak pidana yang dapat merugikan diri sendiri.®

0

Comments